BMKG: Gempa Pacitan Megathrust Dangkal. Gempa tektonik magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Kamis dini hari 6 Februari 2026 pukul 02.49 WIB. BMKG menyatakan gempa ini berasal dari aktivitas megathrust intraslab pada lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Jawa, dengan kedalaman sangat dangkal hanya 10 km. Pusat gempa berada di laut pada koordinat 9,12° LS dan 111,07° BT, sekitar 86 km barat daya Pacitan. Guncangan terasa hingga VI MMI di episenter dan IV–V MMI di Yogyakarta serta Surabaya. BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi tsunami karena tidak ada deformasi dasar laut signifikan, tetapi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan dan longsor. REVIEW FILM
Penjelasan Teknis Gempa Megathrust Dangkal: BMKG: Gempa Pacitan Megathrust Dangkal
Gempa ini diklasifikasikan sebagai intraslab megathrust karena terjadi di dalam lempeng Indo-Australia yang sedang menunjam di bawah lempeng Eurasia dengan sudut curam. Mekanisme sesar naik (thrust fault) menyebabkan guncangan vertikal yang kuat, sehingga terasa lebih intens meski magnitudonya tidak terlalu besar. Kedalaman 10 km termasuk sangat dangkal, membuat energi gempa hampir seluruhnya mencapai permukaan tanpa banyak redaman.
BMKG mencatat 15 gempa susulan hingga pagi hari, dengan magnitudo terbesar 5,1. Aktivitas susulan diprediksi masih berlanjut dalam 3–7 hari ke depan, terutama magnitudo 4,0–5,5. Gempa ini terjadi di zona subduksi selatan Jawa yang sangat aktif, di mana lempeng Indo-Australia terus bergerak ke utara dengan kecepatan sekitar 6–7 cm per tahun.
Dampak Gempa dan Kerusakan Bangunan: BMKG: Gempa Pacitan Megathrust Dangkal
Guncangan terkuat dirasakan di Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, Tulungagung, dan Blitar. BPBD Jawa Timur melaporkan:
Sekitar 420 rumah warga mengalami retak dinding, plafon runtuh parsial, dan genteng lepas.
Beberapa masjid dan mushola di desa-desa pegunungan mengalami kerusakan ringan pada atap dan tembok.
Tiga sekolah dasar di Pacitan mengalami retak pada dinding kelas.
Jalan nasional Pacitan–Trenggalek sempat terhalang longsor kecil di dua titik, tetapi sudah dibersihkan pagi hari.
Di Yogyakarta dan Surabaya, kerusakan sangat minim—hanya retak ringan pada bangunan tua dan benda jatuh dari rak. Tidak ada laporan kerusakan berat pada infrastruktur vital seperti bendungan atau jembatan. Total korban luka ringan mencapai 7 orang akibat panik, tertimpa material, atau terjatuh saat evakuasi. Sekitar 1.300 warga mengungsi sementara karena khawatir rumah tidak aman.
Respons Pemerintah dan BMKG
BMKG langsung mengeluarkan peringatan dini pukul 02.55 WIB dan menegaskan tidak ada potensi tsunami. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa gempa dangkal seperti ini cenderung menghasilkan guncangan vertikal kuat tapi tidak menyebabkan deformasi dasar laut yang memicu gelombang tsunami.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memerintahkan BPBD membuka posko darurat di Pacitan dan Trenggalek. Tim gabungan TNI-Polri, Basarnas, Tagana, dan relawan dikerahkan untuk pendataan, evakuasi, dan distribusi logistik. Bantuan makanan siap saji, air minum, selimut, terpal, dan obat-obatan sudah mulai disalurkan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan duka cita atas korban luka dan memerintahkan percepatan pengecekan infrastruktur vital.
Kesimpulan
Gempa magnitudo 6,4 di Pacitan pada dini hari 6 Februari 2026 menjadi bukti nyata aktivitas megathrust dangkal yang sangat aktif di selatan Jawa. Meski tidak menimbulkan korban jiwa besar dan tidak berpotensi tsunami, guncangan yang terasa luas hingga Yogyakarta dan Surabaya menyebabkan kerusakan ringan hingga sedang serta kepanikan masyarakat. Pemantauan ketat BPBD dan respons cepat tim gabungan sudah terlihat baik, namun kewaspadaan terhadap gempa susulan dan longsor tetap harus dijaga tinggi. Semoga tidak ada korban tambahan dan pemulihan berjalan lancar. Kejadian ini sekali lagi mengingatkan pentingnya bangunan tahan gempa dan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan seperti Pacitan dan sekitarnya. Tetap tenang, ikuti informasi resmi BMKG dan BPBD, serta saling bantu sesama warga terdampak.