Banjir Rob Ancam Pesisir Jakarta Utara

Banjir Rob Ancam Pesisir Jakarta Utara

Banjir Rob Ancam Pesisir Jakarta Utara. Banjir rob atau banjir pesisir kembali mengancam wilayah utara Jakarta, khususnya Jakarta Utara, pada periode Februari 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini sejak 11 Februari, dengan potensi genangan air laut melanda hingga 16 Februari. Fenomena ini dipicu oleh pasang maksimum air laut yang bertepatan dengan fase Bulan Baru pada 17 Februari, sehingga ketinggian muka air laut meningkat signifikan. Wilayah pesisir seperti Penjaringan, Pluit, Ancol, hingga Tanjung Priok dan Kepulauan Seribu menjadi zona rawan. Di tengah musim hujan yang masih intens, ancaman rob ini bisa memperburuk genangan jika berbarengan dengan curah hujan tinggi, membuat warga pesisir harus lebih siaga. REVIEW FILM

Penyebab dan Wilayah yang Berpotensi Terdampak: Banjir Rob Ancam Pesisir Jakarta Utara

Pemicu utama banjir rob kali ini adalah fenomena astronomi fase Bulan Baru yang membuat pasang air laut mencapai puncaknya. BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok melaporkan bahwa kenaikan tinggi muka air laut ini bisa memicu luapan di pesisir utara Jakarta. BPBD DKI menyebut durasi ancaman berlangsung 11–16 Februari, dengan puncak pasang sering terjadi pada pagi hingga siang hari.
Wilayah yang paling berisiko mencakup 11 kelurahan di Jakarta Utara: Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, dan Tanjung Priok. Kepulauan Seribu juga termasuk dalam daftar pemantauan karena posisinya yang langsung berhadapan dengan laut. Genangan rob biasanya mencapai 20–50 cm di jalan-jalan pesisir, terutama di kawasan rendah tanpa tanggul memadai. Jika ditambah hujan deras, luapan bisa meluas ke pemukiman dan akses jalan utama seperti Jalan RE Martadinata atau kawasan pelabuhan.

Dampak dan Imbauan dari BPBD: Banjir Rob Ancam Pesisir Jakarta Utara

Banjir rob tidak hanya mengganggu mobilitas, tapi juga berisiko merusak infrastruktur, menggenangi rumah warga, dan mengganggu aktivitas ekonomi di kawasan pesisir. Pemukiman padat di Penjaringan dan Pluit sering menjadi korban utama, dengan air laut yang asin bisa merusak instalasi listrik dan sanitasi. Nelayan dan pelaku usaha kecil di sekitar pelabuhan Tanjung Priok juga terdampak karena kesulitan beraktivitas saat pasang tinggi.
BPBD DKI Jakarta melalui Kepala Pelaksana Isnawa Adji mengimbau warga pesisir meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah antisipasi meliputi memantau informasi terkini melalui situs bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut, menghindari aktivitas di tepi pantai saat puncak pasang, serta memastikan drainase lingkungan bersih agar tidak memperparah genangan. Jika terjadi keadaan darurat, warga diminta segera hubungi Call Center Jakarta Siaga 112. Pemerintah daerah juga menyiapkan posko dan tim evakuasi jika genangan meluas, meski hingga kini belum ada laporan banjir rob parah di periode ini.

Kesimpulan

Ancaman banjir rob di pesisir Jakarta Utara pada Februari 2026 menjadi pengingat bahwa Jakarta masih rentan terhadap fenomena pasang air laut, terutama di musim transisi seperti sekarang. Dengan peringatan dini dari BPBD dan BMKG, warga memiliki waktu untuk bersiap dan meminimalkan dampak. Kunci utamanya tetap pada kewaspadaan kolektif: pantau prakiraan, jaga lingkungan, dan ikuti arahan resmi. Di tengah upaya penanganan banjir permanen seperti tanggul raksasa dan normalisasi sungai, fenomena rob seperti ini menegaskan perlunya adaptasi jangka panjang terhadap perubahan iklim dan dinamika laut. Semoga periode 11–16 Februari berlalu tanpa insiden besar, dan warga pesisir bisa tetap aman menjalani aktivitas sehari-hari.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *