Banjir Rendam 800 Rumah di Samarinda. Hujan deras yang mengguyur Samarinda sejak Rabu malam hingga Kamis pagi (12–13 Februari 2026) menyebabkan banjir di sejumlah kelurahan. Sebanyak 800 rumah terendam air setinggi lutut hingga dada orang dewasa. Banjir ini memengaruhi ribuan warga di Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda Kota, dan Samarinda Seberang. Debit Sungai Karang Mumus yang meluap menjadi pemicu utama, ditambah drainase kota yang tersumbat sampah dan sedimentasi. Meski genangan mulai surut di beberapa titik pada Jumat pagi, ratusan keluarga masih mengungsi di posko-posko darurat dan rumah kerabat. Pemerintah kota sudah menetapkan status tanggap darurat hingga tujuh hari ke depan sambil terus memantau curah hujan yang masih tinggi. BERITA TERKINI
Penyebab dan Dampak Banjir: Banjir Rendam 800 Rumah di Samarinda
Curah hujan ekstrem mencapai 150–200 mm dalam 24 jam menjadi penyebab langsung meluapnya Sungai Karang Mumus dan Sungai Karang Joang. Beberapa titik rawan seperti Kelurahan Sempaja Utara, Gunung Panjang, Sungai Pinang Dalam, dan Jalan KH Mas Temenggung melaporkan ketinggian air 80–150 cm. Drainase tersumbat limbah rumah tangga dan sedimentasi membuat air sulit surut meski hujan sudah reda.
Dampak terasa luas: sekitar 800 rumah terendam, 12 unit sekolah dasar dan PAUD terdampak, serta beberapa ruas jalan utama seperti Jalan Pahlawan dan Jalan KH Mas Temenggung tertutup genangan. Ratusan warga mengungsi ke masjid, gereja, dan balai RT terdekat. Kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah, terutama dari perabot rumah tangga, kendaraan roda dua, dan stok dagangan warga yang terendam. Belum ada korban jiwa, tetapi dua orang dilaporkan terpeleset dan mengalami luka ringan saat evakuasi. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Tagana, dan relawan masih melakukan pendataan dan distribusi bantuan logistik.
Upaya Penanganan dan Bantuan: Banjir Rendam 800 Rumah di Samarinda
Pemkot Samarinda bersama BPBD Kalimantan Timur langsung membuka posko utama di Balai Kota dan beberapa kelurahan terdampak. Sebanyak 15 perahu karet dan tim evakuasi dikerahkan sejak Kamis dini hari untuk menjangkau warga di kawasan yang airnya masih tinggi. Bantuan logistik berupa paket sembako, air minum, selimut, dan tikar sudah mulai disalurkan ke posko pengungsian.
Gubernur Kaltim Isran Noor menyatakan siap mengalokasikan dana darurat provinsi jika kebutuhan semakin besar. PLN juga memastikan pemadaman listrik sementara di beberapa titik untuk menghindari korsleting, sementara PDAM berupaya memulihkan pasokan air bersih yang sempat terganggu. Wali Kota Samarinda Andi Harun mengimbau warga tetap waspada terhadap banjir susulan dan membersihkan saluran air di lingkungan masing-masing agar genangan tidak berulang. Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota juga mendirikan posko kesehatan darurat untuk memantau potensi penyakit pasca-banjir seperti diare dan infeksi kulit.
Kesimpulan
Banjir yang merendam sekitar 800 rumah di Samarinda pada 12–13 Februari 2026 menjadi pengingat keras bahwa perubahan iklim dan pengelolaan drainase kota harus segera ditangani serius. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini telah mengganggu kehidupan ribuan warga dan menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit. Respons cepat pemerintah kota dan provinsi patut diapresiasi, tetapi solusi jangka panjang seperti normalisasi sungai, pembersihan drainase rutin, dan pengendalian sampah harus menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan. Bagi warga yang terdampak, semoga proses pemulihan berjalan lancar dan rumah-rumah bisa segera kembali layak huni. Samarinda memang sering banjir, tapi kali ini seharusnya jadi momentum terakhir untuk perubahan yang lebih baik.