China Minta RI Pimpin Pertemuan Pertama ABAC 2026. China secara resmi meminta Indonesia untuk memimpin Pertemuan Pertama Asia-Pacific Business Advisory Council (ABAC) 2026 yang digelar di Jakarta pada 9–11 Februari 2026. Permintaan itu disampaikan langsung oleh delegasi Tiongkok dalam sesi pembukaan ABAC di ibu kota, menunjukkan kepercayaan tinggi Beijing terhadap kepemimpinan Indonesia di forum bisnis utama kawasan APEC. Sebagai tuan rumah sekaligus Ketua APEC 2025 yang baru saja berakhir, Indonesia dianggap memiliki posisi strategis untuk membawa agenda investasi dan pertumbuhan inklusif ke tahap implementasi nyata. Permintaan ini menjadi salah satu momen penting di pertemuan tahun ini, sekaligus pengakuan bahwa suara Indonesia semakin berbobot dalam dinamika ekonomi Asia-Pasifik yang kompleks. BERITA TERKINI
Alasan China Meminta Indonesia Memimpin Pertemuan Pertama: China Minta RI Pimpin Pertemuan Pertama ABAC 2026
Delegasi China menjelaskan bahwa pilihan terhadap Indonesia bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan pertimbangan substantif. Pertama, Indonesia berhasil menutup APEC 2025 dengan sejumlah kesepakatan konkret, termasuk penguatan konektivitas rantai pasok dan komitmen transisi energi yang inklusif. Kedua, sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia dipandang mampu menjembatani kepentingan negara maju dan berkembang—terutama di tengah ketegangan perdagangan global yang masih membayangi kawasan.
China juga menyoroti peran Indonesia dalam mendorong investasi berkelanjutan. Beijing menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, serta pembangunan IKN Nusantara sebagai contoh nyata bagaimana negara berkembang bisa mengubah potensi sumber daya menjadi daya tarik investasi jangka panjang. Dalam pandangan China, kepemimpinan Indonesia di pertemuan pertama ABAC 2026 akan memastikan rekomendasi bisnis tidak hanya berhenti di kertas, tapi benar-benar diterjemahkan menjadi proyek nyata yang menguntungkan seluruh anggota APEC.
Permintaan ini juga mencerminkan dinamika hubungan bilateral yang semakin hangat. Sejak kunjungan Presiden Prabowo ke Beijing akhir 2025, kerja sama ekonomi kedua negara semakin intens, terutama di sektor infrastruktur, teknologi hijau, dan perdagangan. Dengan meminta Indonesia memimpin, China seolah memberikan panggung lebih besar bagi Jakarta untuk mengemudikan arah diskusi kawasan—sebuah gestur yang dianggap saling menguntungkan.
Implikasi bagi Indonesia dan Kawasan APEC: China Minta RI Pimpin Pertemuan Pertama ABAC 2026
Kepemimpinan Indonesia di pertemuan pertama ABAC 2026 membawa implikasi besar. Bagi Indonesia sendiri, ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat posisi sebagai destinasi investasi utama di Asia Tenggara. Delegasi Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk kembali menawarkan proyek-proyek prioritas seperti pengembangan koridor industri hijau di Kalimantan dan Sumatera, perluasan kapasitas data center, serta kolaborasi di bidang baterai kendaraan listrik berbasis nikel. Beberapa perusahaan China yang hadir langsung menyatakan minat untuk memperdalam pembicaraan bilateral pasca-pertemuan.
Di level kawasan, kepemimpinan Indonesia diharapkan bisa menjaga keseimbangan agenda. Banyak delegasi dari negara lain—termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Australia—menyambut baik peran Indonesia karena dianggap lebih netral dan inklusif dibandingkan jika salah satu kekuatan besar langsung memimpin. Ada harapan bahwa di bawah arahan Indonesia, ABAC bisa menghasilkan rekomendasi yang lebih actionable, terutama terkait harmonisasi regulasi digital, pendanaan transisi energi, dan akses pasar bagi UMKM lintas batas.
Suasana di ruang pertemuan terasa optimis meski ada tantangan geopolitik yang masih membayangi. Permintaan China ini juga menjadi sinyal bahwa APEC tetap bisa menjadi platform kerja sama yang efektif, di mana negara besar dan menengah saling memberikan ruang untuk berkontribusi.
Kesimpulan
Permintaan China agar Indonesia memimpin Pertemuan Pertama ABAC 2026 di Jakarta adalah pengakuan nyata atas peran strategis Indonesia di kawasan Asia-Pasifik. Bukan hanya soal kehormatan, tapi juga tanggung jawab besar untuk mengarahkan diskusi menuju hasil konkret yang bisa dirasakan oleh pelaku bisnis dan masyarakat luas. Di tengah ketidakpastian global, kepemimpinan Indonesia diharapkan membawa angin segar—mendorong investasi yang berkelanjutan, inklusif, dan saling menguntungkan. Kini tugas Indonesia adalah memanfaatkan kepercayaan ini dengan baik: memimpin dengan tegas, mendengar dengan terbuka, dan menghasilkan rekomendasi yang benar-benar bisa diimplementasikan. Jika berhasil, ABAC 2026 bisa menjadi tonggak baru bagi pertumbuhan ekonomi kawasan yang lebih seimbang dan tangguh. Jakarta sedang memegang kendali—dan dunia bisnis Asia-Pasifik sedang menunggu langkah selanjutnya.