Indonesia Target Rp134 T dari Mineral & Batu Bara 2026

indonesia-target-rp134-t-dari-mineral-batu-bara-2026

Indonesia Target Rp134 T dari Mineral & Batu Bara 2026. Pemerintah Indonesia menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara mencapai Rp134 triliun pada 2026. Angka ini naik signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang diproyeksi sekitar Rp98–102 triliun. Target ambisius ini diumumkan Kementerian ESDM dalam rapat kerja dengan DPR akhir Januari 2026, ditopang oleh kebijakan hilirisasi yang semakin matang, peningkatan royalti, dan pengawasan ketat terhadap produksi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan target ini realistis karena produksi nikel, tembaga, bauksit, timah, dan batu bara diprediksi stabil di tengah harga komoditas yang masih tinggi. Target ini jadi salah satu pilar utama APBN 2026 untuk mendanai program makan bergizi gratis, infrastruktur, dan transisi energi. MAKNA LAGU

Strategi Peningkatan PNBP Sektor Minerba: Indonesia Target Rp134 T dari Mineral & Batu Bara 2026

Pemerintah mengandalkan tiga pilar utama untuk capai Rp134 triliun. Pertama, peningkatan royalti dan pungutan ekspor. Sejak 2023, royalti nikel naik jadi 10–14% tergantung kadar, bauksit 10%, tembaga 10%, dan batu bara progresif hingga 14% untuk produksi di atas kuota. Pada 2026, pemerintah akan terapkan royalti lebih tinggi untuk perusahaan yang belum bangun smelter penuh, sementara insentif diberikan bagi yang sudah hilirisasi. Kedua, optimalisasi produksi dan pengawasan. Produksi batu bara dipatok 922 juta ton (naik dari 890 juta ton 2025), nikel ore 272 juta ton, bauksit 80 juta ton, dan tembaga konsentrat 3,5 juta ton. Pengawasan ketat melalui sistem digital SIMBARA dan monitoring satelit ditargetkan kurangi penambangan ilegal yang merugikan negara miliaran rupiah setiap tahun. Ketiga, hilirisasi yang terus berjalan. Smelter nikel sudah 50 unit beroperasi penuh, bauksit 4 smelter alumina, tembaga 2 smelter besar, dan rencana tambahan 15 smelter baru 2026–2027. Produk hilir seperti nickel matte, MHP, dan ferro-nikel punya nilai tambah jauh lebih tinggi dibanding ore mentah, sehingga PNBP dari royalti dan pajak perusahaan smelter diprediksi melonjak.

Kontribusi Komoditas Utama Indonesia: Indonesia Target Rp134 T dari Mineral & Batu Bara 2026

Nikel tetap jadi kontributor terbesar, diperkirakan sumbang Rp50–55 triliun dari royalti dan pungutan ekspor. Produksi nikel ore stabil di 272 juta ton, tapi nilai tambah dari smelter naik tajam karena mayoritas diekspor dalam bentuk produk olahan. Batu bara diperkirakan beri Rp45–50 triliun, didorong harga DMO domestik yang stabil dan royalti progresif. Bauksit dan alumina target Rp12–15 triliun setelah larangan ekspor ore berlaku penuh sejak 2023—produksi alumina naik 40% tahun lalu dan terus bertambah. Tembaga dan timah sumbang Rp15–18 triliun, dengan smelter tembaga baru di Gresik dan Manyar mulai produksi penuh 2026. Total target Rp134 triliun ini naik sekitar 30–35% dari 2025, dan pemerintah yakin tercapai karena harga komoditas global masih di atas rata-rata historis.

Tantangan dan Risiko

Meski target terlihat realistis, ada beberapa tantangan. Harga komoditas bisa turun jika ekonomi global melambat, terutama China yang jadi konsumen utama nikel dan batu bara. Regulasi lingkungan semakin ketat—beberapa smelter nikel dihadapkan tuntutan emisi dan reklamasi, yang bisa naikkan biaya operasional. Penambangan ilegal masih jadi masalah di Kalimantan dan Sulawesi, meski pengawasan digital sudah diperketat. Risiko lain adalah protes masyarakat sekitar tambang dan smelter terkait dampak lingkungan serta konflik lahan. Pemerintah janji tingkatkan dialog dan program CSR, tapi implementasi di lapangan masih perlu penguatan. Investor asing juga minta kepastian regulasi jangka panjang agar tidak ragu ekspansi.

Kesimpulan

Target PNBP minerba Rp134 triliun di 2026 menunjukkan optimisme pemerintah terhadap sektor sumber daya alam pasca-hilirisasi. Dengan royalti lebih tinggi, produksi stabil, dan smelter yang semakin banyak, angka ini realistis dan bisa jadi penopang besar APBN untuk program prioritas nasional. Tantangan harga komoditas, lingkungan, dan penegakan hukum tetap ada, tapi langkah pengawasan digital dan insentif hilirisasi sudah beri fondasi kuat. Jika tercapai, ini akan jadi salah satu pencapaian ekonomi terbesar pemerintahan Prabowo di tahun pertama penuh. Sektor minerba tetap jadi tulang punggung—tapi pengelolaan yang berkelanjutan dan adil akan menentukan apakah target ini benar-benar berkah bagi rakyat.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *