3 Warga Indonesia Tersesat di Tempat Sembunyi Dajjal. Berita viral baru-baru ini menyebut tiga warga negara Indonesia (WNI) terjebak di Pulau Socotra, Yaman, yang dalam beberapa narasi keagamaan disebut sebagai tempat persembunyian Dajjal menjelang kiamat. Kejadian ini terjadi di tengah konflik militer antara Arab Saudi dan kelompok separatis di Yaman, yang menyebabkan ratusan turis, termasuk ketiga WNI tersebut, terisolasi tanpa akses penerbangan keluar. Pulau Socotra, dengan keunikan alamnya yang sering disebut “alien” karena flora dan fauna endemik, mendadak jadi sorotan bukan hanya karena keindahannya, tapi juga mitos religius yang melekat. Artikel ini membahas kronologi, kondisi terkini, serta perspektif di balik narasi viral tersebut. REVIEW WISATA
Kronologi dan Kondisi di Pulau Socotra: 3 Warga Indonesia Tersesat di Tempat Sembunyi Dajjal
Pulau Socotra, bagian dari Yaman tapi terletak di Laut Arab dekat Tanduk Afrika, sedang dilanda dampak konflik regional. Operasi militer Arab Saudi terhadap separatis Houthi membuat akses udara tertutup, sehingga sekitar 600 turis dari berbagai negara terjebak sejak akhir Desember lalu. Di antara mereka, tiga WNI dilaporkan berada di sana sebagai wisatawan biasa, bukan bagian dari misi khusus.
Mereka terdampar tanpa akses ATM, pasokan makanan terbatas, dan komunikasi sulit karena jaringan terganggu. Beberapa wisatawan harus bertahan dengan sumber daya lokal, seperti air dan makanan dari penduduk setempat yang ramah. Pemerintah Indonesia melalui KBRI di Sana’a dan Riyadh sedang berkoordinasi untuk evakuasi, tapi situasi keamanan membuat proses lambat. Hingga kini, ketiga WNI dilaporkan aman, meski mengalami kesulitan logistik sehari-hari.
Narasi Mitos Tempat Sembunyi Dajjal: 3 Warga Indonesia Tersesat di Tempat Sembunyi Dajjal
Pulau Socotra sering dikaitkan dengan mitos sebagai tempat persembunyian Dajjal dalam beberapa tafsir hadis, karena keanehan alamnya: pohon darah naga yang bentuknya seperti payung terbalik, hewan endemik langka, dan isolasi geografis yang ekstrem. Narasi ini makin viral saat berita penjebakan turis muncul, dengan beberapa unggahan media sosial menyebut “3 orang Indonesia tersesat di tempat Dajjal”.
Padahal, kejadian ini murni akibat konflik politik dan bukan hal supranatural. Socotra memang UNESCO World Heritage Site karena biodiversitas uniknya—hampir 37 persen tanaman dan 90 persen reptilnya tak ditemukan di tempat lain—tapi mitos Dajjal lebih bersifat interpretasi religius daripada fakta historis. Viralnya cerita ini menunjukkan bagaimana informasi cepat bercampur dengan narasi keagamaan di era digital, membuat situasi evakuasi biasa jadi terdengar misterius.
Upaya Evakuasi dan Dampak Lebih Luas
Kementerian Luar Negeri Indonesia terus memantau kondisi ketiga WNI, bekerja sama dengan otoritas Yaman dan koalisi Arab untuk membuka koridor evakuasi. Beberapa turis sudah mulai dievakuasi melalui kapal atau penerbangan khusus, tapi proses masih berjalan lambat karena prioritas keamanan. Penduduk lokal Socotra membantu wisatawan dengan menyediakan tempat tinggal sementara dan makanan, menunjukkan keramahan meski pulau mereka sedang krisis.
Insiden ini juga menyoroti kerentanan wisatawan di zona konflik, terutama destinasi eksotis seperti Socotra yang semakin populer. Dampaknya, banyak agen perjalanan menunda tur ke sana hingga situasi stabil.
Kesimpulan
Keterjebakan tiga WNI di Pulau Socotra lebih disebabkan konflik militer daripada narasi mistis tentang tempat sembunyi Dajjal. Kejadian ini mengingatkan pentingnya kehati-hatian saat bepergian ke wilayah rawan, sekaligus bagaimana mitos religius bisa mempercepat penyebaran informasi viral. Harapannya, evakuasi segera berhasil, dan ketiga WNI pulang dengan selamat. Di sisi lain, Socotra tetap jadi destinasi alam menakjubkan yang patut dijaga, bukan hanya karena legenda, tapi keunikan biodiversitasnya yang langka. Situasi ini semoga jadi pelajaran untuk semua pihak agar lebih bijak menyikapi berita di tengah gejolak dunia.