Maduro Menambah Daftar Presiden Yang Ditangkap AS. Penangkapan Nicolás Maduro oleh pasukan militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 menambah daftar panjang pemimpin negara yang pernah ditangkap langsung oleh Washington. Maduro, presiden Venezuela yang kontroversial, ditangkap di Caracas dan dibawa ke New York untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba. Presiden Donald Trump memuji operasi ini sebagai kemenangan besar melawan kartel obat bius, tapi aksi ini juga picu perdebatan global soal legalitas dan implikasi geopolitik. Maduro bergabung dengan nama-nama seperti Manuel Noriega dari Panama dan Saddam Hussein dari Irak, yang sama-sama ditangkap oleh AS dalam operasi militer serupa. Kejadian ini jadi sorotan di awal 2026, menandai pendekatan agresif Trump terhadap musuh asing. REVIEW WISATA
Kasus Manuel Noriega: Maduro Menambah Daftar Presiden Yang Ditangkap AS
Manuel Noriega, jenderal Panama yang berkuasa dari 1983 hingga 1989, menjadi salah satu contoh awal penangkapan pemimpin asing oleh AS. Pada Desember 1989, Presiden George H.W. Bush perintahkan invasi Panama dengan kode Operasi Just Cause, melibatkan 27 ribu pasukan. Tujuannya tangkap Noriega atas tuduhan perdagangan narkoba dan pencucian uang. Noriega sempat bersembunyi di kedutaan Vatikan, tapi akhirnya menyerah setelah pasukan AS kelilingi gedung dan mainkan musik rock keras untuk ganggu. Ia dibawa ke Miami, diadili, dan divonis 40 tahun penjara, meski akhirnya dibebaskan lebih awal pada 2007. Kasus ini jadi preseden bagi intervensi AS untuk penegakan hukum, tapi dikritik sebagai pelanggaran kedaulatan. Noriega tewas pada 2017 setelah bebas.
Kasus Saddam Hussein: Maduro Menambah Daftar Presiden Yang Ditangkap AS
Saddam Hussein, presiden Irak dari 1979 hingga 2003, ditangkap oleh pasukan AS pada Desember 2003 selama Operasi Red Dawn. Setelah invasi Irak pada Maret 2003 di bawah Presiden George W. Bush, Saddam kabur dan bersembunyi. Ia ditemukan di lubang persembunyian dekat Tikrit, tak bersenjata dan tanpa perlawanan signifikan. Penangkapan ini bagian dari perburuan pemimpin Irak pasca-jatuhnya Baghdad, dengan imbalan 25 juta dolar AS. Saddam diadili oleh pengadilan khusus Irak atas kejahatan kemanusiaan, termasuk pembantaian Kurdi dan Syiah, dan dieksekusi gantung pada Desember 2006. Aksi AS ini didasari tuduhan senjata pemusnah massal yang ternyata tak terbukti, membuat operasi kontroversial. Penangkapan Saddam jadi simbol perubahan rezim, tapi picu kekacauan panjang di Irak.
Dampak Penangkapan Maduro
Penangkapan Maduro menambah daftar dengan konteks serupa: tuduhan narkoba dan intervensi langsung. Operasi berlangsung cepat di Caracas, dengan Maduro dan istrinya ditangkap tanpa perlawanan besar, meski beberapa pengawal—termasuk warga Kuba—tewas. Trump sebut ini sebagai peringatan bagi pemimpin lain, dan rencana AS kelola Venezuela sementara hingga transisi. Ini mirip Noriega soal narkoba, tapi tanpa invasi skala besar seperti Irak. Dampaknya luas: Venezuela kacau dengan pemadaman listrik dan tantangan dari wakil presiden. Reaksi internasional keras, dengan Rusia dan Cina kutuk sebagai agresi, sementara AS anggap langkah penegakan hukum. Kasus ini pertanyakan legalitas, karena melanggar kedaulatan tanpa otorisasi PBB, mirip kritik pada Noriega dan Saddam.
Kesimpulan
Nicolás Maduro menambah daftar presiden ditangkap AS, bergabung dengan Manuel Noriega dan Saddam Hussein sebagai contoh intervensi militer Washington terhadap pemimpin asing. Dari tuduhan narkoba hingga perubahan rezim, pola ini tunjukkan pendekatan AS yang tegas tapi kontroversial. Di 2026, penangkapan Maduro picu ketidakstabilan baru di Venezuela dan perdebatan global soal hukum internasional. Meski Trump anggap kemenangan, implikasi jangka panjang bisa mahal, termasuk konflik regional dan korban jiwa. Kasus-kasus ini ingatkan bahwa kekuasaan sering diikuti risiko, dan intervensi semacam ini tak pernah tanpa konsekuensi. Venezuela kini hadapi masa transisi penuh tantangan di bawah pengawasan AS.