Korban Tewas Perang di Gaza Mencapai 70 Ribu Orang. Gaza kembali jadi sorotan dunia dengan angka mengerikan yang baru dirilis Kementerian Kesehatan setempat pada 29 November 2025: korban tewas dari perang Israel-Hamas kini melewati 70 ribu jiwa. Total 70.100 orang tewas sejak 7 Oktober 2023, dengan lebih dari 170.900 lainnya luka-luka. Angka ini melonjak tajam meski gencatan senjata yang dirundingkan AS berlaku sejak Oktober, di mana serangan Israel masih klaim 352 nyawa tambahan. Tragedi ini tak cuma soal angka—ia cerita tentang keluarga hancur, anak-anak yatim, dan kota yang porak-poranda. Di tengah upaya rekonstruksi yang tersendat, angka ini jadi pengingat betapa dalamnya luka perang yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun, meninggalkan Gaza dengan infrastruktur hancur dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung reda. INFO CASINO
Dampak Manusiawi yang Tak Terbayangkan: Korban Tewas Perang di Gaza Mencapai 70 Ribu Orang
Lebih dari 70 ribu nyawa hilang berarti Gaza kehilangan hampir 3 persen populasinya—sekitar 4-5 persen jika hitung kematian tak langsung seperti kelaparan dan penyakit. Kementerian Kesehatan catat 70.100 korban dikonfirmasi, tapi studi dari Johns Hopkins dan The Lancet perkirakan undercount hingga 41 persen di paruh pertama perang, karena rumah sakit roboh dan listrik mati. Sejak gencatan, 606 jenazah digali dari reruntuhan, tapi identifikasi sulit karena DNA rusak. Anak-anak dan perempuan dominasi korban: 40 persen di bawah 18 tahun, menurut data awal. Keluarga seperti Moaz Mghari yang kehilangan 62 anggota dalam satu serangan Bureij jadi simbol tragedi—sebuah keluarga utuh lenyap dalam hembusan bom. Gaza, yang dulunya punya sistem kesehatan lebih baik dari banyak negara Timur Tengah, kini bergulat dengan blackout dan kelangkaan air, picu ribuan kematian tak terlaporkan dari infeksi dan kekurangan gizi.
Serangan yang Terus Berlanjut Meski Gencatan: Korban Tewas Perang di Gaza Mencapai 70 Ribu Orang
Gencatan senjata yang dimediasi AS sejak 10 Oktober seharusnya beri napas, tapi serangan Israel tak berhenti. Pada 29 November, drone Israel tebas dua anak di Bani Suheila selatan Gaza, dekat sekolah pengungsi—adik berusia 8 dan 11 tahun tewas di Nasser Hospital. Kementerian bilang 354 tewas sejak gencatan, termasuk 240 warga sipil. Israel klaim targetkan militan Hamas, tapi saksi mata bilang serangan acak hantam pasar dan tenda pengungsi. Di utara, Jabalia hancur lebur, dengan ribuan bangunan rata—sekitar 80 persen infrastruktur Gaza rusak atau hancur. Hamas balas dengan tembakkan roket sporadis, tapi korban utama tetap warga Gaza. Analisis The Economist sebut angka resmi “batas bawah,” dan PCBS perkirakan 11 ribu hilang dianggap tewas, plus 100 ribu pengungsi. Krisis ini tak cuma militer—famine ancam 2,2 juta jiwa, dengan 62 ribu kematian potensial dari kelaparan saja.
Respons Internasional dan Upaya Rekonstruksi
Dunia bereaksi campur aduk. AS, mediator gencatan, tolak tuduhan genosida tapi tekan Israel kurangi korban sipil—Presiden Biden kirim utusan khusus untuk negosiasi tahap dua. Liga Arab adopsi rencana 53 miliar dolar untuk bangun ulang Gaza, dengan Mesir latih 5.000 polisi Palestina untuk keamanan pasca-perang. Tapi hambatan besar: Israel tolak pasukan PA di Gaza, sementara Hamas pertahankan pengaruh. Pada 8 November, Hamas serahkan jenazah tentara Israel Hadar Goldin yang ditawan sejak 2014, tukar dengan 606 mayat Palestina—langkah kecil tapi simbolis. PBB catat 69.169 tewas hingga awal November, dan Amnesty International tuntut investigasi independen atas “pelanggaran hukum perang.” Di Gaza, relawan gali reruntuhan dengan tangan kosong, sementara keluarga tunggu DNA match untuk pemakaman. Abbas, presiden PA, janji “keadilan untuk 70 ribu martir,” tapi realitas lapangan: rumah sakit overload dan bantuan tersendat di Rafah.
Kesimpulan
Angka 70 ribu korban tewas di Gaza bukan sekadar statistik—ia jeritan generasi yang hilang, kota yang hancur, dan harapan yang tertunda. Meski gencatan beri jeda rapuh, serangan berlanjut dan krisis kemanusiaan menggila, picu kematian tak langsung ribuan lagi. Upaya rekonstruksi dari Liga Arab dan mediasi AS beri sinar, tapi tanpa komitmen demiliterisasi dan bantuan bebas hambatan, angka ini bisa tembus 100 ribu. Gaza butuh bukan cuma duka cita, tapi aksi nyata: gencatan permanen, bantuan tak terputus, dan jalan menuju negara Palestina. Di tengah puing, warga Gaza tetap bertahan—tapi dunia tak boleh biarkan 70 ribu nyawa jadi catatan kaki sejarah. Ini saatnya perdamaian sungguhan, sebelum luka ini jadi luka abadi.