Golan Saat Ini di Ambang Perdamaian, Dipromasi Suriah dan Israel

Golan Saat Ini di Ambang Perdamaian, Dipromasi Suriah dan Israel

Golan Saat Ini di Ambang Perdamaian, Dipromasi Suriah dan Israel. Setelah puluhan tahun menjadi titik sengketa, Dataran Tinggi Golan kini berada di ambang perdamaian berkat upaya diplomasi antara Suriah dan Israel. Pada 20 Agustus 2025, pejabat tinggi kedua negara dikabarkan mengadakan pembicaraan tatap muka di Paris, menandai momen bersejarah setelah puluhan tahun konflik. Pertemuan ini membahas pengaktifan kembali Perjanjian Pemisahan 1974, penarikan pasukan Israel dari zona demiliterisasi, dan kemungkinan kerja sama keamanan. Meski isu pengembalian Golan ke Suriah belum diangkat, langkah ini menunjukkan adanya kemauan untuk meredakan ketegangan, terutama setelah perubahan rezim di Suriah pasca-kepergian Bashar al-Assad pada Desember 2024. Dengan mediasi Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab, diplomasi ini membuka peluang untuk stabilitas di wilayah yang strategis ini. Berikut ulasan lengkapnya. BERITA LAINNYA

Dimana Golan Terletak
Dataran Tinggi Golan adalah dataran berbatu seluas sekitar 1.860 km² yang terletak di wilayah barat daya Suriah, berbatasan dengan Israel, Lebanon, dan Yordania. Wilayah ini berada sekitar 60 km barat daya Damaskus dan memiliki posisi strategis karena ketinggiannya memberikan keunggulan militer bagi pihak yang mengendalikannya. Golan juga kaya akan sumber air, termasuk Sungai Yordan yang mengalir ke Danau Galilea, sumber air utama Israel. Sejak Perang Enam Hari 1967, Israel menduduki sebagian besar Golan, mengusir sekitar 140.000 warga Suriah, meskipun sekitar 24.000 warga Druze tetap tinggal. Pada 1981, Israel secara sepihak mengesahkan Undang-Undang Dataran Tinggi Golan, yang dianggap sebagai aneksasi oleh komunitas internasional, kecuali Amerika Serikat. Wilayah ini kini dihuni oleh sekitar 31.000 pemukim Israel dan menjadi pusat pertanian, anggur, dan pariwisata, termasuk resor ski di Gunung Hermon.

Kenapa Golan Bisa Diambang Kedamaian
Golan berada di ambang kedamaian karena perubahan signifikan dalam dinamika politik Suriah dan kawasan. Kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 dan naiknya pemerintahan baru di bawah Presiden Ahmad al-Sharaa membuka peluang baru untuk dialog. Pemerintahan baru Suriah menunjukkan sikap yang lebih moderat, menolak aliansi dengan Iran, Hezbollah, dan Hamas, yang selama ini menjadi penghalang perdamaian dengan Israel. Selain itu, tekanan Amerika Serikat untuk menstabilkan hubungan Suriah-Israel, terutama melalui utusan khusus AS, Thomas Barrack, mendorong negosiasi yang fokus pada pengaturan keamanan di zona demiliterisasi. Israel, yang telah menduduki zona penyangga sejak kejatuhan Assad, menyatakan kesiapan untuk menarik pasukannya jika kesepakatan keamanan tercapai. Faktor lain adalah keinginan Suriah untuk mendapatkan pengakuan internasional dan dukungan ekonomi, sementara Israel ingin memastikan perbatasan utaranya aman dari ancaman kelompok bersenjata. Meski isu pengembalian Golan belum dibahas, fokus pada perjanjian non-agresi menjadi langkah awal menuju stabilitas.

Apa Yang Dimaksud Dengan Diplomasi Suriah dan Israel
Diplomasi Suriah dan Israel dalam konteks ini merujuk pada pembicaraan tingkat tinggi yang dimulai pada Agustus 2025, ditengahi oleh Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab. Pertemuan di Paris pada 20 Agustus 2025 melibatkan Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shibani, dan Menteri Luar Negeri Israel, Ron Dermer, yang membahas pengaktifan kembali Perjanjian Pemisahan 1974. Perjanjian ini awalnya menetapkan zona demiliterisasi di Golan, diawasi oleh Pasukan Pengamat Pemisahan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDOF), untuk mencegah konflik langsung antara kedua negara. Pembicaraan juga mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah Suriah yang diduduki sejak Desember 2024, pengaturan keamanan di perbatasan, dan rencana koridor bantuan kemanusiaan untuk komunitas Druze di Suriah. Meski tidak membahas normalisasi penuh atau pengembalian Golan, negosiasi ini menandai langkah signifikan karena kedua belah pihak kini berkomunikasi langsung, berbeda dengan mediasi tidak langsung di masa lalu, seperti pada 2008 di Istanbul. Diplomasi ini juga didorong oleh keinginan untuk memperluas Abraham Accords, meski Suriah lebih memprioritaskan kesepakatan keamanan daripada normalisasi penuh.

Kesimpulan: Golan Saat Ini di Ambang Perdamaian, Dipromasi Suriah dan Israel
Upaya diplomasi terbaru antara Suriah dan Israel membawa angin segar bagi Dataran Tinggi Golan, wilayah strategis yang telah lama menjadi sumber konflik. Dengan perubahan rezim di Suriah dan mediasi internasional, kedua negara kini berada di jalur untuk meredakan ketegangan, fokus pada keamanan perbatasan dan pengaktifan kembali Perjanjian Pemisahan 1974. Meski isu pengembalian Golan ke Suriah belum dibahas, langkah ini menunjukkan kemauan untuk menciptakan stabilitas di kawasan yang selama ini rawan konflik. Respons masyarakat, terutama warga Druze di Golan, akan menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini, begitu pula dengan komitmen kedua pihak untuk menjaga dialog. Dengan dukungan AS dan UEA, diplomasi ini berpotensi menjadi fondasi bagi perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah. Mari dukung langkah ini untuk mewujudkan Golan yang damai dan aman bagi semua!

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *