Iran Akui Ribuan Orang Tewas, Tapi Tolak Bersalah. Pemerintah Iran untuk pertama kalinya secara resmi mengakui bahwa ribuan orang tewas selama gelombang demonstrasi besar-besaran tahun 2022–2023, tetapi dengan tegas menolak tuduhan bahwa aparat keamanan bertanggung jawab atas kematian tersebut. Pernyataan itu disampaikan melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani pada 26 Januari 2026, menyusul laporan independen yang memperkirakan korban mencapai 5.800–6.200 jiwa. Iran menyebut angka itu “kurang lebih akurat” tapi menegaskan bahwa sebagian besar kematian disebabkan oleh “kerusuhan”, “tindakan teroris”, atau “konflik antar demonstran sendiri”. Penolakan tanggung jawab ini langsung memicu kecaman keras dari organisasi hak asasi manusia internasional dan negara-negara Barat. MAKNA LAGU
Kronologi Pengakuan dan Penolakan: Iran Akui Ribuan Orang Tewas, Tapi Tolak Bersalah
Demonstrasi nasional dimulai September 2022 setelah kematian Mahsa Amini di tahanan polisi moral karena dugaan pelanggaran aturan hijab. Gelombang protes menyebar ke lebih dari 160 kota dan menuntut reformasi politik, hak perempuan, serta akhir dari sistem teokrasi. Pemerintah menanggapi dengan kekerasan: peluru tajam, gas air mata, pemukulan massal, penangkapan ribuan orang, dan eksekusi puluhan demonstran. Hingga 2025, Iran selalu membantah angka korban tinggi dan hanya mengakui sekitar 200–300 kematian, sebagian besar diklaim sebagai anggota pasukan keamanan atau korban “kerusuhan”. Pada 26 Januari 2026, untuk pertama kalinya juru bicara Kanaani mengakui bahwa “ribuan orang tewas selama periode tersebut”, tapi menegaskan bahwa “tidak ada bukti aparat keamanan secara sistematis membunuh demonstran”. Ia menuduh angka korban tinggi sebagai “propaganda Barat dan musuh revolusi” yang dibesar-besarkan untuk mendiskreditkan Republik Islam.
Respons Internasional dan Hak Asasi: Iran Akui Ribuan Orang Tewas, Tapi Tolak Bersalah
Organisasi hak asasi seperti Amnesty International, Human Rights Watch, dan Iran Human Rights langsung mengecam pernyataan itu sebagai “pengakuan parsial tanpa akuntabilitas”. Mereka menegaskan bahwa sebagian besar kematian disebabkan oleh peluru tajam aparat, penyiksaan di penjara, dan eksekusi setelah pengadilan kilat. Dewan Hak Asasi Manusia PBB dan Mahkamah Pidana Internasional menyatakan kesiapan menyelidiki kasus kejahatan terhadap kemanusiaan, tapi Iran menolak kerjasama. Uni Eropa dan Amerika Serikat memperpanjang sanksi terhadap pejabat keamanan Iran, sementara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut pengakuan ribuan korban sebagai “tragedi kemanusiaan yang harus diselidiki secara independen”. Di sisi lain, Rusia dan China menyatakan bahwa isu ini adalah “urusan dalam negeri Iran” dan menolak intervensi luar.
Implikasi Jangka Panjang
Pengakuan parsial ini memperlebar jurang antara pemerintah Iran dan tuntutan hak asasi manusia. Sanksi ekonomi yang semakin luas, isolasi diplomatik, dan tekanan dari diaspora Iran di luar negeri membuat posisi Teheran semakin sulit. Di dalam negeri, pemerintah terus memperkuat kontrol melalui pengawasan digital, sensor internet, dan peningkatan kekuatan pasukan keamanan. Demonstrasi sporadis masih terjadi, meski sering diredam cepat. Bagi keluarga korban dan aktivis, pengakuan ribuan tewas menjadi simbol perjuangan yang belum selesai. Beberapa kelompok oposisi di luar negeri terus mengkampanyekan isu ini di forum internasional, termasuk di Sidang Umum PBB dan Mahkamah Pidana Internasional. Sementara itu, masyarakat Iran tetap hidup di bawah tekanan berat, dengan harapan perubahan yang semakin tipis.
Kesimpulan
Pengakuan Iran atas ribuan kematian selama demonstrasi 2022–2023 pada 26 Januari 2026 menjadi langkah signifikan, tapi penolakan tanggung jawab aparat keamanan membuatnya terasa hampa. Angka korban yang tinggi tetap menjadi luka terbuka bagi ribuan keluarga dan aktivis. Respons internasional yang semakin keras menunjukkan bahwa isu ini tidak akan mudah dilupakan. Di tengah tekanan sanksi dan isolasi, Iran terus mempertahankan narasi resmi bahwa kekerasan itu “diperlukan untuk menjaga stabilitas”. Namun bagi korban dan keluarga mereka, perjuangan masih jauh dari selesai. Dunia terus memperhatikan—apakah Teheran akan membuka ruang dialog, atau justru semakin menutup diri. Yang pasti, luka 2022 masih sangat dalam dan belum sembuh.