BNPB Catat Banjir & Longsor di Jawa & Sulawesi

BNPB Catat Banjir & Longsor di Jawa & Sulawesi

BNPB Catat Banjir & Longsor di Jawa & Sulawesi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rentetan banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa serta Sulawesi sepanjang akhir Januari 2026. Fenomena hidrometeorologi basah ini mendominasi laporan bencana, dengan dampak signifikan pada ribuan jiwa, rumah rusak, dan korban jiwa, terutama di Jawa Barat yang paling parah. REVIEW FILM

Dominasi Bencana Hidrometeorologi di Jawa: BNPB Catat Banjir & Longsor di Jawa & Sulawesi

Sepanjang 1-25 Januari 2026, BNPB mencatat 128 kejadian banjir dan 15 tanah longsor di berbagai provinsi, dengan Jawa Barat menjadi pusat kejadian terbanyak. Di Kabupaten Subang, banjir sejak 22 Januari merendam 3.355 rumah di 21 desa dan 9 kecamatan, memengaruhi 9.491 jiwa—957 di antaranya mengungsi. Ketinggian air mencapai 150 cm, juga merendam 3 sekolah, 14 fasilitas ibadah, dan 27 hektare sawah; hingga akhir pekan lalu, genangan belum sepenuhnya surut.
Kabupaten Majalengka terdampak hujan deras selama lima jam pada 23 Januari, memicu banjir dan longsor di 39 titik yang tersebar di 28 desa, merusak ratusan rumah dan infrastruktur. Puncak tragis terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Kecamatan Cisarua, Desa Pasirlangu, pada 24 Januari dini hari: tanah longsor menewaskan puluhan orang, dengan data terbaru menunjukkan 53 korban jiwa dievakuasi dan sekitar 27 orang masih dalam pencarian. Lebih dari 30 rumah tertimbun, memaksa relokasi 48 rumah warga. BNPB bersama pemerintah daerah menyiapkan hunian sementara dan dana tunggu Rp600 ribu per bulan bagi korban. Di wilayah lain seperti Pemalang (Jawa Tengah), longsor juga terjadi pada 25 Januari akibat tanah labil di area perhutani.

Kejadian di Sulawesi dan Wilayah Lain: BNPB Catat Banjir & Longsor di Jawa & Sulawesi

Di Sulawesi, bencana hidrometeorologi juga tercatat meski tidak sefatal di Jawa. BNPB melaporkan potensi banjir dan longsor di Sulawesi Selatan serta Sulawesi Utara sepanjang Januari, termasuk banjir bandang awal bulan yang menewaskan 11 orang dan membuat ribuan mengungsi di Kepulauan Sitaro. Status tanggap darurat sempat diberlakukan hingga pertengahan Januari. Di akhir bulan, wilayah Sulawesi termasuk dalam daftar provinsi rawan hujan lebat disertai angin kencang, meski kejadian spesifik banjir atau longsor baru-baru ini lebih sporadis dibanding Jawa. Secara keseluruhan, bencana di Sulawesi berkontribusi pada angka nasional yang tinggi, dengan ribuan jiwa terdampak sejak awal tahun.

Penanganan dan Imbauan BNPB

BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD setempat, TNI-Polri, serta tim SAR untuk evakuasi, pencarian korban, dan distribusi bantuan. Operasi modifikasi cuaca dilakukan di titik rawan seperti Cisarua untuk menekan intensitas hujan. Masyarakat diimbau waspada terhadap hujan lebat lebih dari satu jam, segera evakuasi mandiri dari lereng rawan longsor, serta menjauhi sungai dan area genangan. Pemerintah pusat juga berencana membentuk tim terintegrasi penanganan banjir di Jawa, mencakup edukasi, peringatan dini, hingga normalisasi sungai dan drainase.

Kesimpulan

Catatan BNPB soal banjir dan longsor di Jawa serta Sulawesi menegaskan bahwa puncak musim hujan 2025/2026 masih membawa risiko tinggi, terutama di wilayah dengan topografi labil dan curah hujan ekstrem. Dengan puluhan korban jiwa, ribuan mengungsi, dan kerusakan infrastruktur, kejadian ini jadi pengingat urgensi mitigasi jangka panjang—mulai dari tata ruang, reboisasi, hingga sistem peringatan dini yang lebih baik. Semoga upaya penanganan cepat membuahkan hasil, korban segera teridentifikasi, dan wilayah terdampak pulih tanpa kejadian serupa berulang. Waspada tetap jadi kunci menghadapi cuaca tak menentu ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *