Bencana Alam Lampung Bertambah

Bencana Alam Lampung Bertambah

Bencana Alam Lampung Bertambah. Bencana alam di Provinsi Lampung terus bertambah parah sejak akhir Januari 2026. Hujan ekstrem yang dipicu bibit siklon tropis di Samudra Hindia selatan Jawa menyebabkan banjir bandang, longsor, dan banjir rob di hampir seluruh kabupaten pesisir dan pegunungan. Hingga pagi 28 Januari, BNPB mencatat korban tewas bertambah menjadi 14 orang, 9 orang hilang, dan lebih dari 18.000 jiwa mengungsi. Wilayah paling terdampak adalah Lampung Selatan, Lampung Tengah, Tanggamus, dan Pesawaran. Situasi ini mengulang pola bencana Januari yang sebelumnya juga melanda Jawa dan Sumatera, dengan risiko longsor susulan dan banjir masih sangat tinggi. REVIEW FILM

Penyebab dan Pola Cuaca: Bencana Alam Lampung Bertambah

Intensitas hujan mencapai 350–580 mm kumulatif di zona selatan Lampung sejak 23 Januari, jauh melebihi normal bulanan. Bibit siklon tropis menarik massa udara basah dari Samudra Hindia, ditambah suhu permukaan laut di atas 29 °C dan kelembapan lapisan atas 92–98%. Awan cumulonimbus berkembang masif, menghasilkan hujan lebat berkepanjangan disertai petir dan angin kencang 50–80 km/jam. Lereng Gunung Pesawaran, Tanggamus, dan Bukit Barisan menjadi titik rawan longsor karena tanah sudah jenuh air. Sungai Way Sekampung, Way Jepun, dan Way Bulak meluap hingga menggenangi pemukiman dengan ketinggian 1–2,5 meter. Gelombang tinggi 5–8 meter juga menerjang pesisir Lampung Selatan dan Lampung Barat, menyebabkan banjir rob parah.

Dampak terhadap Masyarakat dan Infrastruktur: Bencana Alam Lampung Bertambah

Total korban jiwa mencapai 14 orang (9 longsor di Tanggamus dan Pesawaran, 5 banjir bandang di Lampung Selatan). Lebih dari 9.000 rumah terendam, 1.800 di antaranya rusak berat. Sekitar 18.000 jiwa mengungsi ke posko di masjid, gereja, sekolah, dan balai desa. Sawah dan kebun seluas ribuan hektare terendam, mengancam hasil panen padi, kopi, dan sayur. Infrastruktur terdampak parah: jalan nasional lintas Lampung terputus di 14 titik karena longsor dan banjir. Listrik padam di ribuan rumah karena tiang roboh dan gardu terendam. Jaringan telepon dan internet terganggu di sebagian besar wilayah terdampak. Beberapa jembatan kecil ambruk, memaksa warga menggunakan perahu karet untuk mobilitas. Di Bandar Lampung, banjir rob menggenangi kawasan Teluk Betung dan Panjang dengan ketinggian hingga 1,8 meter.

Respons Pemerintah dan Rekomendasi

Gubernur Lampung telah menyatakan status tanggap darurat bencana di enam kabupaten/kota terdampak. BNPB mengerahkan helikopter dan perahu karet untuk evakuasi serta distribusi logistik ke desa terisolasi. TNI-Polri membentuk posko gabungan di Bandar Lampung, Pringsewu, dan Tanggamus dengan ribuan personel terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, air minum, selimut, obat-obatan, dan tenda darurat sudah mulai disalurkan melalui jalur darat dan udara. BMKG memperpanjang status siaga hingga 2 Februari dengan prakiraan hujan sedang hingga lebat masih mungkin terjadi di wilayah Lampung. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap longsor susulan dan banjir bandang, serta hindari sungai yang masih meluap. Rekomendasi utama: pantau prakiraan cuaca setiap jam melalui aplikasi Info BMKG, siapkan tas darurat berisi makanan, air, obat, dan dokumen penting, serta hindari aktivitas di daerah rawan.

Kesimpulan

Banjir bandang dan longsor di Lampung yang dipicu hujan ekstrem sejak akhir Januari 2026 telah menewaskan 14 orang, merendam ribuan rumah, dan memutus akses jalan utama. Respons pemerintah dan TNI-Polri sudah berjalan cepat, namun akses ke wilayah terisolasi serta risiko longsor susulan tetap menjadi tantangan utama. Prakiraan cuaca hingga awal Februari menunjukkan potensi hujan lebat masih tinggi. Warga Lampung diminta terus waspada dan mengikuti arahan resmi. Semoga hujan segera reda dan masyarakat terdampak bisa pulih secepatnya. Cuaca ekstrem memang ujian berat, tapi solidaritas dan kesiapsiagaan bisa meringankan beban. Tetap aman dan saling bantu!

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *