Banjir Indramayu Meluas, 2.000 Warga Mengungsi. Banjir yang melanda Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, semakin meluas sejak akhir Januari 2026 akibat hujan deras berkepanjangan dan meluapnya Sungai Cipunagara serta Sungai Cimanuk. Hingga Jumat malam, 31 Januari 2026, sekitar 2.000 warga dari belasan desa di empat kecamatan terdampak terpaksa mengungsi ke posko-posko pengungsian dan rumah saudara. Banjir setinggi 1–2,5 meter merendam ribuan rumah, sawah, dan lahan pertanian, membuat akses jalan utama terputus dan aktivitas ekonomi lumpuh. BPBD Kabupaten Indramayu mencatat ketinggian air terus naik sejak Rabu malam, dan hingga kini belum ada tanda-tanda surut signifikan. Situasi ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terparah di wilayah pantura Jawa Barat awal tahun ini. REVIEW WISATA
Penyebab dan Penyebaran Banjir: Banjir Indramayu Meluas, 2.000 Warga Mengungsi
Curah hujan ekstrem yang melanda wilayah hulu Sungai Cipunagara dan Cimanuk sejak Selasa malam menjadi pemicu utama. Debit air di dua sungai tersebut melebihi kapasitas normal hingga 200–300 persen, menyebabkan jebolnya tanggul di beberapa titik kritis, terutama di Kecamatan Lohbener, Balongan, dan Jatibarang. Air limpasan juga diperparah oleh drainase perkotaan yang tersumbat sampah dan sedimentasi sungai yang belum tertangani maksimal.
Kecamatan paling terdampak adalah Lohbener (sekitar 800 jiwa mengungsi), Balongan (600 jiwa), Jatibarang (400 jiwa), dan Cantigi (200 jiwa). Desa-desa seperti Karanglayung, Balongan, dan Mekarjaya hampir seluruhnya terendam. Ribuan hektare sawah siap panen ikut terendam, mengancam hasil panen padi petani setempat yang sudah menunggu musim tanam berikutnya. Beberapa sekolah dasar dan madrasah terpaksa diliburkan karena gedung terendam dan akses siswa terputus.
Upaya Penanganan dan Kondisi Pengungsi: Banjir Indramayu Meluas, 2.000 Warga Mengungsi
BPBD Kabupaten Indramayu bersama Tagana, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan setempat terus mendistribusikan logistik darurat berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan obat-obatan. Posko utama didirikan di Balai Desa Balongan dan beberapa balai desa lain, sementara pengungsi yang tidak ke posko resmi ditampung di rumah kerabat atau masjid terdekat.
Hingga malam ini, bantuan sudah menjangkau sekitar 1.500 kepala keluarga. Pemkab Indramayu juga mengaktifkan dapur umum di beberapa titik dan berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat untuk tambahan logistik. Tim kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten mendirikan pos kesehatan lapangan untuk mencegah penyakit pasca-banjir seperti diare, ISPA, dan leptospirosis. Beberapa warga lansia dan balita yang sakit sudah dievakuasi ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Pemantauan debit sungai terus dilakukan, dan pompa air portabel dikerahkan di beberapa titik genangan parah. Namun, hujan yang masih turun sporadis membuat upaya penyedotan air berjalan lambat.
Kesimpulan
Banjir Indramayu yang meluas hingga memaksa 2.000 warga mengungsi menjadi pengingat keras betapa rentannya wilayah pantura terhadap cuaca ekstrem. Meski penanganan darurat sudah berjalan cepat, tantangan utama tetap pada solusi jangka panjang: normalisasi sungai, perbaikan tanggul, pengelolaan sampah drainase, dan relokasi permukiman rawan. Bagi warga yang terdampak, hari-hari ke depan masih penuh ketidakpastian—air belum surut, sawah rusak, dan kebutuhan dasar harus terus dipenuhi. Pemerintah daerah dan provinsi kini diuji untuk tidak hanya merespons cepat, tapi juga memberikan jaminan bahwa musim hujan berikutnya tidak akan berulang dengan skala yang sama. Indramayu butuh lebih dari bantuan sementara—ia butuh pencegahan permanen agar warganya tidak terus menjadi korban banjir tahunan.